Sejarah Singkat Kerajaan Makassar


Kerajaan makassar merupakan salah satu kerajaan maritim yang  besar dan memegang peranan penting terutama dalam pelayaran dan perdagangan karena letaknya yang strategis di perairan timur Indonesia, yaitu di daerah semenanjung barat daya  sulawesi. Selain sebagai kerajaan maritim yang sangat terkenal, Makassar juga terkenal sebagai penghasil rempah - rempah. Kerajaan Makassar membentuk jalur perdagangan laut nusantara yang sangat terkenal pada abad16 hingga 17 M.

    Kerajaan Makassar juga memiliki hubungan diplomasi yang baik dengan kerajaan Ternate di Maluku. Sebelum abad ke - 16 M, raja - raja Makassar belum memeluk Islam. Baru setelah kedatangan Dato' Ri Bandang, seorang penyiar Islam di sumatera, Makassar berkembang menjadi Kerajaan Islam. Adapun  raja - raja Islam yang berkuasa di Makassar sebagai berikut.

1. Sultan Alauddin
     Sultan Alauddin adalah Raja Makassar pertama yang memeluk agama Islam. Ia berkuasa dari tahun 1591 hingga 1639 M. Sebelumnya, Sultan Alauddin bernama asli Karaeng Ma'towaya Tumamenanga ri Agamanna. Dibawah kepemimpinannya, kerajaan Makassar berkembang menjadi Kerajaan Maritim. Para pelaut Makassar mengembangkan perahu - perahu layar jenis Pinisi dan Lambo. Dengan majunya perdagangan, kehidupan masyarakat kerajaan Makassar menjadi sejahtera.

2. Muhammad Said
      Setelah Sultan Alauddin wafat pada tahun 1639 M, kerajaan Makassar dipimpin oleh Muhammad Said. Ia memimpin Kerajaan Makassar  dari tahun 1639 hingga 1653 M. Namun sayang, catatan - catatan sejarah mengenai masa pemerintahan Muhammad Said kurang banyak ditemukan. Setelah Muhammad Said wafat, raja Makassar berikutnya adalah Sultan Hasanuddin.

3. Sultan Hasanuddin
     Raja Makassar ketiga adalah Sultan Hasanuddin. Ia berkuasa dikerajaan Makassar sejak tahun 1653 M. Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin merupakan masa gemilang kerajaan Makassar. Karena selain memajukan perdagangan, Sultan Hasanuddin juga mengadakan ekspansi wilayah. Dibawah pemerintahannya, kerajaan Makassar berhasil menguasai kerajaan - kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, yaitu Luwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Setelah keberhasilan tersebut, Sultan Hasanuddin juga berniat menjadikan Makassar sebagai penguasa tungga jalur perdagangan Indonesia bagian timur. Untuk itu Sultan Hasanuddin harus menghadapi kekuatan armada VOC Belanda sebelum menguasai Maluku. Maluku yang kaya akan lada masih dikuasai oleh Belanda. Pertempuran sering terjadi antara kerajaan Makassar dan Belanda. Akibatnya kegiatan perdagangan Belanda dengan Batavia terganggu. Keberhasilan Sultan Hasanuddin untuk menentang Belanda menyebabkan ia dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur.

Belanda berusaha keras menghentikan serangan kerajaan Makassar. Untuk itu, Belanda bersekutu dengan Raja Bone, yaitu Aru (tuan) Palaka. Ary palaka bersedia membantu Belanda dengan syarat bahwa kerajaan Bone diberikan kemerdekaan. Pada tahun 1667 M, Belanda dengan bantuan kerajaan Bone berhasil menekan Makassar untuk menyetujui perjanjian Bongaya. Perjanjian ini berisi tiga buah kesepakatan, yaitu VOC mendapat hak monopoli dagang Makassar, Belanda dapat mendirikan benteng Rotterdam di Makassad, Makassar harus melepas daerah yang dikuasainya seperti Bone dan Soppeng serta mengakui Aru Palaka sebagai Raja Bone.

4. Mapasomba
       Setelah Sultan Hasanuddin turun tahta pada tahun 1669 M, Mapasomba putranya berusaha meneruskan perjuangan melawan Belanda. Belanda yang sangat mengharapkan tindakan kooperatif dari Mapasomba, harus menyiapkan armada perang. Pasukan Kerajaan Makassar akhirnya berhasil di pukul mundur oleh Belanda. Dengan demikian, Makassar dan jalur perdagangannya di kuasai oleh Belanda.

Sepertu juga mayoritas Kerajaan - Kerajaan Islam  di Nusantara, Kerajaan Makassar adalah Kerajaan Maritim. Sebagai kerajaan yang banyak kepulauan, para pelaut Makassar adalah sangat tangguh. Mereka bahkan merajai jalur pelayaran Nusantara. Hal ini ditunjang pula oleh keahlian masyarakat Makassar mendesain berbagai bentuk kapal yang indah. Kapal - kapal seperti pinisi, Lambo, dan Padelawang dapat mengarungi perairan Indonesia bahkan ke berbagai wilayah di luar Indonesia, seperti India, dan Cina. Guna mengatur kegiatan perdagangan di wilayah kerajaannya, Makassar memiliki hukum perdagangan yang disebut Ade Allopiloping Bincaranna Pabbahi'e.

Sementara itu, letaknya yang berdekatan dengan pusat penghasil rempah - rempah, yaitu Maluku, menyebabkan kerajaan Makassar berniat mengusir Belanda dari Maluku pada permulaan abad ke-17 M.

Serupa dengan kerajaan - kerajaan Islam lainnya di Indonesia, kerajaan Makassar juga mengadopsi hukumndan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Pemerintahan kerajaan Makassae juga aktif dan menjalin hubungan kerja sana antar kerajaan Islam, ssperti Demak dan Malaka.

Sebagai bangsa maritim, masyarakat memiliki keahlian membuat sarana pelayaran. Kapal - kapal Makassar tidak hanya di buat untuk berdagang, tetapi juga untuk berperang di laut. Kapal-kapal khas Makassar seperti Pinisi bahkan masih di gunakan sampai sekarang. Teknologi perkapalan Makassar menunjukkan salah satu sisi yang tampak dari kehidupan budaya Makassar yang cukup tinggi.
     

0 Response to "Sejarah Singkat Kerajaan Makassar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel