Sejarah Singkat Kerajaan Tidore
Tidore merupakan Kerajaan persekutuan antara Sembilan bersaudara yang wilayahnya meliputi Pulau Tidore, Makyan, Jailolo atau Halmahera, dan pulau - pulau di daerah tersebut sampai papua. Kekuasaan Kerajaan Tidore berada pada uli siwa (persekutua sembilan), yaitu persekutuan antara sembilan bersaudara. Karena letaknya yang berada dalam satu wilayah, maka kedua kerajaan, Ternate, dan Tidore merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Tanah Maluku yang kaya akan rempah - rempah menjadikannya di kenal didunia internasional dan disebut Spice Islan. Pada awalnya rempah - rempah hanya merupakan hasil hutan. Namun setelah permintaan akan rempah - rempah meningkat tajam, masyarakat Maluku mulai membudidayakannya dalam bentuk perkebunan. Kegunaan dan manfaat rempah - rempah yang beragam menarik minat masyarakat Eropa. Selain sebagai bumbu masak, rempah - rempah juga berguna sebagai obat tradisional sehingga menjadi produk perdagangan yang sangat berharga. Tidak heran, Maluku sebagai penghasil rempah - rempah di Indonesia yang diminati tidak hanya oleh pedagang lokal saja tetapu juga oleh bangsa penjajah. Maluku menjadi "ladang emas" yang tidak ternilai harganya bagi mereka.
Pada abad ke- 12 M, permintaan cengkeh dan pala dari Eropa semakin meningkat. Hal ini menyebabkan dibukanya perkebunan di pulau Buru, Seram, dan Ambon. Para pedagang dari Jawa Timur banyak yang datang ke Maluku dengan membawa beras, garam, dan kacang - kacangan untuk ditukar dengan rempah - rempah. Karena kekayaan rempah - rempah ini, menyebabkan setiap daerah di Maluku ingin menjadi Pengguna tunggal dalam perdagangan rempah - rempah.
Dengan adanya kepentingan atas penguasaan perdagangan maka terjadilah persekutuan daerah antarkerajaan. Adapun persekutuan - persekutuan tersebut adalah Uli Lima (persekutuan lima), yaitu persekutuan antara lima saudara yang dipimpin oleh ternate, meliputi (Obi, Bacan, Seram, dan Ambon). Sementara itu, Uli Siwa (Persekutuan Sembilan), yaitu persekutuan antara Sembilan bersaudara yang wilayahnya meliputi Pulau Tidore, Makyan, Jailolo atau Halmahera dan pulau - pulah di Papua.
Diantara kedua persekutuan tersebut terjadi persaingan tajam. Hal ini terutama terjadi setelah para pedagang Eropa datang ke Maluku. Pada tahun 1512 M bangsa Spanyol datang ke Tidoren. Kedua bangsa asing ini sama - sama ingin berkuasa ditempat kedatangannya, sehingga mereka bersekutu dan mendukung penguasa setempat dengan mendirikan benteng - benteng diwilayah dengan dalih untuk melindungi kerajaan tersebut dari serangan kerajaan lain.
Kehidupan sosial masyarakat Maluku sangat dipengaruhi oleh datangnya pedagang - pedagang asing dari portugis dan Belanda. Sebelumnya, masyarakat Maluku sudah mengenal dan mendapat pengaruh budaya dan agama Islam. Pengaruh Islam sangat terasa dipusat penyebarannya di Maluku Utara, yaitu Ternate dan Tidore. Sementara itu, perkembangan politik anti imperialisme Sultan Baabullah menyebabkan pengaruh budaya portugis dan Belanda lebih terpusat diluar Ternate dan Tidore, yaitu Kepulauan Maluku bagian selatan. Beberapa daerah seperti Ambon, menjadi pusat penyebaran agama Katholik dan Protestan yang di bawa bangsa Portugis dan Belanda. Penyebaran kedua agama tersebut berjalan dengan lancar karena adanya dukungan dari warga masyarakat setempat yang menginginkan adanya perubahan.
Tanah Maluku yang kaya akan rempah - rempah menjadikannya di kenal didunia internasional dan disebut Spice Islan. Pada awalnya rempah - rempah hanya merupakan hasil hutan. Namun setelah permintaan akan rempah - rempah meningkat tajam, masyarakat Maluku mulai membudidayakannya dalam bentuk perkebunan. Kegunaan dan manfaat rempah - rempah yang beragam menarik minat masyarakat Eropa. Selain sebagai bumbu masak, rempah - rempah juga berguna sebagai obat tradisional sehingga menjadi produk perdagangan yang sangat berharga. Tidak heran, Maluku sebagai penghasil rempah - rempah di Indonesia yang diminati tidak hanya oleh pedagang lokal saja tetapu juga oleh bangsa penjajah. Maluku menjadi "ladang emas" yang tidak ternilai harganya bagi mereka.
Pada abad ke- 12 M, permintaan cengkeh dan pala dari Eropa semakin meningkat. Hal ini menyebabkan dibukanya perkebunan di pulau Buru, Seram, dan Ambon. Para pedagang dari Jawa Timur banyak yang datang ke Maluku dengan membawa beras, garam, dan kacang - kacangan untuk ditukar dengan rempah - rempah. Karena kekayaan rempah - rempah ini, menyebabkan setiap daerah di Maluku ingin menjadi Pengguna tunggal dalam perdagangan rempah - rempah.
Dengan adanya kepentingan atas penguasaan perdagangan maka terjadilah persekutuan daerah antarkerajaan. Adapun persekutuan - persekutuan tersebut adalah Uli Lima (persekutuan lima), yaitu persekutuan antara lima saudara yang dipimpin oleh ternate, meliputi (Obi, Bacan, Seram, dan Ambon). Sementara itu, Uli Siwa (Persekutuan Sembilan), yaitu persekutuan antara Sembilan bersaudara yang wilayahnya meliputi Pulau Tidore, Makyan, Jailolo atau Halmahera dan pulau - pulah di Papua.
Diantara kedua persekutuan tersebut terjadi persaingan tajam. Hal ini terutama terjadi setelah para pedagang Eropa datang ke Maluku. Pada tahun 1512 M bangsa Spanyol datang ke Tidoren. Kedua bangsa asing ini sama - sama ingin berkuasa ditempat kedatangannya, sehingga mereka bersekutu dan mendukung penguasa setempat dengan mendirikan benteng - benteng diwilayah dengan dalih untuk melindungi kerajaan tersebut dari serangan kerajaan lain.
Kehidupan sosial masyarakat Maluku sangat dipengaruhi oleh datangnya pedagang - pedagang asing dari portugis dan Belanda. Sebelumnya, masyarakat Maluku sudah mengenal dan mendapat pengaruh budaya dan agama Islam. Pengaruh Islam sangat terasa dipusat penyebarannya di Maluku Utara, yaitu Ternate dan Tidore. Sementara itu, perkembangan politik anti imperialisme Sultan Baabullah menyebabkan pengaruh budaya portugis dan Belanda lebih terpusat diluar Ternate dan Tidore, yaitu Kepulauan Maluku bagian selatan. Beberapa daerah seperti Ambon, menjadi pusat penyebaran agama Katholik dan Protestan yang di bawa bangsa Portugis dan Belanda. Penyebaran kedua agama tersebut berjalan dengan lancar karena adanya dukungan dari warga masyarakat setempat yang menginginkan adanya perubahan.
0 Response to "Sejarah Singkat Kerajaan Tidore"
Post a Comment